Lima lanskap menjadi jangkar imajinasimu, dari arus Sungai Musi hingga lengkung Jembatan Ampera. Jelajahi ceritanya, pelajari genrenya, latih tekniknya, lalu tuliskan karyamu sendiri.
Membaca lanskap sebagai teks yang hidup. Sungai, rawa, dan hutan menyimpan cerita yang menunggu ditulis.
Narasi multimodal: teks, foto, dan audio berpadu menghidupkan tempat di layarmu sebelum kau menghidupkannya di tulisanmu.
Lanskap nyata Sumatra Selatan menjadi titik tolak eksplorasi, bukan sekadar latar dekoratif.
Lima lanskap, masing-masing dalam empat babak. Ketuk kata bergaris emas untuk membuka glosarium mini, dengarkan narasinya, dan bawa pulang benih inspirasi ke Ruang Menulis.
Pelajari secara berurutan: mulai dari menulis kehidupan (biografi dan autobiografi), lalu dunia rekaan (cerpen), pemadatan rasa (puisi), cerita untuk dipentaskan (naskah drama), hingga warisan tutur (dongeng dan cerita rakyat).
Genre memberimu bentuk; teknik memberimu tenaga. Empat latihan di bawah bisa diulang kapan saja, dan laboratorium tiga kata di bagian bawah siap dipakai langsung.
Ambil tiga kata yang tidak saling berhubungan, lalu paksa dirimu menulis satu paragraf utuh yang memuat ketiganya. Keterbatasan justru memancing imajinasi bekerja: otakmu akan membangun jembatan antara hal-hal yang tampak mustahil dipertemukan. Lakukan setiap hari sebagai pemanasan sebelum menulis karya sesungguhnya.
Pasang waktu lima menit, lalu menulislah tanpa berhenti dan tanpa menyunting. Abaikan dulu ejaan, logika, dan rasa malu. Tujuannya melatih kelancaran: memisahkan "kepala pencipta" dari "kepala penyunting" yang sering membungkam ide sebelum sempat lahir. Setelah waktu habis, barulah baca ulang dan tandai kalimat yang layak dikembangkan.
Pilih satu tempat, misalnya tepian Musi saat pagi. Tulis lima kalimat: satu untuk yang terlihat, terdengar, tercium, teraba, dan terkecap. Tulisan yang hidup bekerja pada indra pembaca, bukan pada kesimpulan. Kalimat "pasar itu ramai" menyimpulkan; kalimat "tawar-menawar bersahutan dengan bunyi mesin ketek" membuat pembaca berdiri di sana.
Ganti pernyataan emosi dengan tindakan dan detail. Jangan tulis "Bujang sangat sedih"; tulis "Bujang menatap botol kosong itu lama sekali, lalu meletakkannya kembali ke air, pelan, seperti menguburkan sesuatu." Pembaca akan merasakan sedih tanpa pernah membaca kata sedih. Latih dengan mengambil satu kalimat "mengatakan" dari drafmu, lalu tulis ulang menjadi adegan.
Tekan tombol acak, dapatkan tiga kata, lalu tulis satu paragraf yang memuat ketiganya. Lampu hijau menyala setiap kata berhasil kamu pakai.
Istilah khas Sumatra Selatan yang muncul dalam cerita, bekal diksi untuk tulisanmu. Entri di bawah adalah contoh awal dan akan diverifikasi oleh ahli budaya-ekologis.
Halaman ini khusus untuk dosen pengampu. Mahasiswa tidak dapat melihat data penilaian.